新闻是有分量的

Ketika anak-anak jalanan belajar di tengah pekuburan

2017年12月19日下午2:37发布
2017年12月19日下午2:37更新

Dua siswi SD Pangudi Luhur Gunung Brintik bermain di atas makam,Rabu(13/12)。 Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

Dua siswi SD Pangudi Luhur Gunung Brintik bermain di atas makam,Rabu(13/12)。 Foto oleh Fariz Fardianto / Rappler

SEMARANG,印度尼西亚 - Suasana SD Pangudi Luhur Gunung Brintik yang berdiri di Jalan Dr Sutomo,三宝垄 ,tampak riuh pada Rabu,13 Desember 2017.Tawa para siswa menggema di seluruh ruangan tatkala jarum jam menunjukan pukul 10:00 WIB。

Sejumlah siswa berhamburan keluar dari ruang kelas untuk bermain di halaman sekolah。 Tak ada yang aneh dengan sekolah dasar ini kecuali batu-batu nisan yang mengelilingi sekolah tersebut。 Maklum,SD Pangudi Luhur Gunung Brintik memang berdiri di tengah pemakaman,yakni di TPU Bergota。

“Enggak takut,Mas.Kan udah biasa mainan di kuburan,”kata Yohannes Mario Farrel,seorang siswa Kelas V,saat dihampiri Rappler。

Bangunan SD Pangudi Luhur Gunung Brintik berada tepat di puncak perbukitan。 Di bawah kaki bukit,terhampar patok-patok kuburan berjumlah ribuan.Tetapi,niat Farrel,untuk bersekolah di lokasi tersebut tak pernah surut。

“Ya beginilah suasana di sekolahan kami.Bangunan ini separuh dipakai untuk taman kanak-kanak dan separuhnya lagi buat SD.Tempatnya berada di TPU Bergota,”ungkap Elizabeth Suharti,guru Kelas 1 SD Gunung Brintik。

Di tengah keterbatasan ruang kelas,sekolahannya saban tahun hanya mampu menampung 20 murid。 “Susahnya bukan main.Sampai-sampai kami harus promosi ke taman kanak-kanak,Posyandu dan mendatangi RT maupun RW demi mendapatkan siswa baru,”katanya。

Suharti mengatakan mayoritas muridnya berasal dari keluarga miskin。 Mereka lebih suka menggantungkan hidup dari jualan koran,mengemis maupun mengamen di jalanan。 Tak jarang,para guru harus pontang-panting mendatangi tiap rumah untuk membujuk setiap muridnya agar mau bersekolah。

“Kami harus tebal telinga,rela nyangoni murid-murid karena saat disuruh sekolah alasannya macam-macam.Minggingat keluarga mereka banyak yang putus sekolah,orang tuanya jadi pemandu karaoke.Maka psikologis mereka pasti terpengaruh,”timpal Silvester Sunaryo,guru lainnya yang mengajar di Kelas V SD Gunung Brintik。

Ajarkan kedisiplinan

Walau begitu,Sunaryo tak patah arang untuk mengajar di sekolah。 Ia selalu menanamkan kedisiplinan untuk mengubah perilaku muridnya。 Dengan tegas ia mewajibkan muridnya masuk tepat pukul 07:00 WIB。

“Tantangan terberat di sini ya memperbaiki sopan santunnya.Sebab,mereka sering bicara kasar layaknya anak jalanan,”terangnya。

Ia menganggap kedisiplinan jadi modal penting untuk memajukan generasi muda。 Kendala lainnya,yaitu saat mendapati muridnya membolos dengan alasan mencari uang di jalanan。

“Ada yang bolos empat hari sampai setahun tidak pernah masuk.Maka jangan heran kalau murid kami usianya lebih tua.Mau cari yang umurnya 13 tahun dan 15 tahun masih kelas I dan VI juga ada.Karena mereka yang tadinya menghilang terus ndaftar sekolah lagi,jumlahnya sangat banyak,“katanya。

Untuk mengurangi aktivitas muridnya di jalanan,Suharti menambahkan sejak dua tahun terakhir,para guru membuat ekstrakulikuler tiap Jumat dan Sabtu。

Semua muridnya diwajibkan ikut pelatihan membuat ragam kerajinan tasbih,rosario,bros hingga bermain musik。 “Biar mereka anteng,enggak menggelandang lagi,”terangnya sambil tertawa lebar。

Butuh bantuan pemerintah

Sebagai sekolah swasta,dirinya pun ekstra keras dalam meningkatkan mutu pendidikan murid-muridnya。 Hasil kerajinan muridnya kerap dijual kembali ke pihak gereja yang membutuhkan。

Pihaknya juga rutin meminta dana bantuan operasional sekolah dan bantuan lainnya untuk fasilitasi program dari pemerintah Kota Semarang。

“Namun,kami bangga bisa mengajar di sini meski banyak hambatannya.Kami berharap anak-anak jalanan bisa bersekolah supaya bisa meningkatkan derajat keluarganya yang hidup dibawah garis kemiskinan,”kata Suharti。 -Rappler.com